Selasa, 17 April 2018

Revitalisasi Politik Akal Sehat


Apa yang pertama kali muncul dalam setiap benak masyarakat jika terngiang kata “politik”? Sebagian orang akan memaknai politik sebagai kewenangan, kekuasaan, kepentingan, takhta, atau supremasi. Tidak dapat dielakkan lagi bahwa sejatinya setiap manusia tidak akan jauh dari politik. Dengan adanya politik, permasalahan yang ada di masyarakat dapat terpecahkan. Namun, tak sedikit pula yang mengkonotasikan politik sebagai sesuatu yang kotor, keji, bejat, korup, dan segala umpatan yang menjustifikasi politik pada serendah-rendahnya hal ihwal perpolitikan. Sebuah pola pemikiran yang menurut saya berpotensi, dan mungkin sudah mengakar di otak-otak masyarakat yang pada akhirnya dapat menimbulkan efek domino terhadap tatanan cara pandang masyarakat terhadap politik.
Bahu-membahu reformasi pada 20 tahun silam belum selayaknya dikatakan berhasil, yang ada kini hanya saling sikut antar kubu pendukung yang mengatasnamakan diri sebagai pendukung pemerintah melawan pendukung oposisi. Kontradiksi antar dua kubu inilah yang dinilai oleh sebagian masyarakat awam politik bahwa politik itu hanyalah kisaran “rivalitas oligarki” semata.
Jika boleh dikata, saya menganggap masyarakat yang terendus kefanatikan, dan juga mereka yang acuh terhadap politik adalah masyarakat yang sama-sama merem dan melenceng dari tujuan terciptanya sistem politik. Tidak bermaksud mengintimidasi, sadar atau tidak politik Indonesia saat ini adalah politik yang tidak sehat. Bukan karena pernyataan atau manuver-manuver dari penentang pemerintahan, tetapi masyarakat itu sendiri yang sangat dan dengan mudahnya terprovokasi. Berdalih menegakkan demokrasi, tetapi secara tidak langsung merobohkan sendi-sendi demokrasi itu sendiri.
Bisa mengambil contoh kasus pidato ‘brilian’ Prabowo Subianto dalam acara konferensi dan temu kader nasional Partai Gerindra di Bogor, Jawa Barat, Oktober tahun 2017 lalu. Beliau mengatakan bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Beliau mengatakan hal ini hanya bersumber dari sebuah novel fiksi berjudul “Ghost Fleet” yang dikarang oleh Peter W. Singer dan August Cole. Jelas dan pasti bagi mereka yang ‘dangkal’ akan kebakaran jenggot mendengarnya. Sosial media menjadi pembantaian bagi mereka-mereka (simpatisan istana) yang ingin melampiaskan ketidaksetujuan akan pidato dari “musuh bebuyutan”.
Sebenarnya, di mana letak keanehannya? Saya beranggapan bahwa Prabowo mengatakan ini bukanlah tanpa sebab. Prabowo hanya mewanti-wanti agar Indonesia bisa saja bubar di suatu saat. Bubar di sini bukan diartikan bangunan runtuh, lenyap dalam semalam akibat bencana mahadasyat, atau khayalan-khayalan yang tak mendasar lainnya. Menurut budayawan, Emha Ainun Nadjib, Indonesia pada 2030 justru menjadi negara yang besar dengan kemajuan industri, perekonomian yang berkembang, dan daya beli masyarakat yang membaik. Masalahnya, saat itu pula kita akan tetap menjadi pelayan, kita tetap dalam posisi menjadi pegawai rendahan yang bergantung kepada para pemilik modal yang menguasai aset negara.
Masyarakat saat ini kebanyakan ogah berkaca pada sejarah. Pada 1997, seluruh ekonom di lembaga pemerintah, termasuk juga para ekonom asing, meramalkan perekonomian Indonesia sehat-sehat saja. Akan tetapi, pada saat itu hanya Rizal Ramli ekonom yang kritis terhadap rentetan situasi internal perekonomian Indonesia yang mana ramalannya terbukti benar bahwa akan ada Krisis Finansial Asia pada tahun 1997. Pada saat itu, tidak ada yang percaya akan analisisnya. Baru-baru ini, Fadli Zon dalam suatu acara stasiun televisi swasta juga mengatakan bahwa pada tahun 1993 Bank Dunia telah memprediksi akan terjadi kolaps ekonomi pada tahun 1997 di Asia. Tak tanggung-tanggung, dijabarkan pula tahapan-tahapannya.
Fadli Zon sendiri adalah orang yang getol menentang rezim saat ini. Wajar! Notabene dia berada di partai oposisi pemerintah dan dia juga seorang anggota DPR yang mana berhak untuk mengkritisi pimpinannya. Nahasnya, sosial media membuat namanya bak sampah masyarakat. Apapun yang diutarakan seorang Fadli Zon, di mana-mana hanya ada hujatan dan meme-meme menggelitik. Di sinilah masyarakat seyogyanya harus lebih mau untuk mencari tahu apa fungsi dari oposisi dan batasan-batasannya.
Bukan berarti memihak, tetapi coba bayangkan bagaimana situasi sebuah negara yang sedang diperintah oleh sebuah rezim tanpa pengontrol di dalamnya? Begitu leluasanya para tirani nantinya, bukan? Jadi apa hakikat demokrasi itu? Bukankan adanya oposisi mencerminkan bahwa demokrasi negara kita itu sedang sehat-sehatnya? Rezim dan oposisi memang berbeda pandangan, mereka mempunyai alat tunggangan masing-masing, tetapi pada dasarnya mereka mempunyai intensi yang sama.
Kembali, media menggembor-gemborkan sesuatu yang hanya membuat negara terpecah-belah. Mengatasnamakan “obrolan politik” yang pada dasarnya menyudutkan pihak-pihak yang tidak sejalan dengan ideologi mereka dan hanya menimbulkan perang kolom komentar tanpa ada substansi yang jelas. Sosial media adalah ajang diskusi pemikiran dan pemahaman untuk kepentingan birokrasi, bukan “beda berarti lawan”. Fatal! Yang ada kebebasan berpendapat tak lagi longgar. Ada satu hal yang saya dapat dari seorang panelis muda, Pangeran Siahaan, “Kritik paling tajam dan paling konsisten kepada seorang politisi atau pejabat publik harusnya diberikan kepada konstituennya (pemilihnya) karena mereka yang satu alur dengan si figur.”
 Masyarakat harus lebih bijak dan melek akan tujuan politik yang telah dibungkus dengan modernitas dari sisa-sisa perjuangan revolusi para pahlawan terdahulu. Tujuan-tujuan politik yang saat ini sudah terkesan busuk, harus dikembalikan sesuai fitrahnya. Fanatik boleh, tetapi tidak harus mengorbankan diri untuk rela “menjilat kaki sang politisi” sekalipun. Menjadikan forum-forum sebagai diskusi cerdas, tanpa ada unsur provokasi. Awam politik pun tak perlu menggebu-gebu, setidaknya perasaan-perasaan skeptis terhadap politik harus disingkirkan karena pada dasarnya masyarakat adalah sebaik-baiknya pengontrol kekuasaan.

Oleh: Setyo Adi Nugroho (17 April 2018)

1 komentar:

Kisah Lucu Letnan Komarudin Salah Melihat Tanggal pada Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949

Nama Letnan Komarudin tak bisa dipisahkan dari cerita mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949. Hal ini dikarenakan Letnan Komarudin bersa...