Keberadaan
peninggalan kuno di Kabupaten Kebumen bisa dilacak ke masa Dinasti Sanjaya di era Mataram
Hindu. Ini ditandai dengan Lingga dan Yoni di Situs Desa Sumberadi (dahulu
Somolangu), di tapal batas timur kota Kebumen. Lingga berupa tonggak batu
dengan dasar persegi, bagian tengah segi delapan, dan bagian atas bulat tabung
(gilig) sebagai lambang Dewa Siwa. Sementara Yoni sendiri berupa kotak batu
dengan lubang persegi di tengahnya sebagai lambang Dewi Uparmati (istri Siwa).
Dalam versi lain, Lingga melambangkan phallus
(alat kelamin pria), sementara Yoni melambangkan wiwara (alat kelamin wanita).
Kedua artefak ini bisa ditemukan bersamaan, di mana Lingga ditempatkan di dalam
lubang Yoni. Penempatan seperti ini melambangkan kesuburan dan biasa dilakukan
oleh kalangan masyarakat Hindu purba yang telah menetap dan terorganisir di
suatu lokasi.
Terkuaknya
Peradaban Hindu Kuno Kebumen
Situs
Sumberadi berada di kompleks Taman Kanak-Kanak Sumberadi, 200 meter di utara
alur Sungai Kedungbener. Lingga dan Yoni tersebut berada di samping MI AL
Fatah, Desa Sumberadi. Lokasi Lingga dan Yoni itu hanya beberapa meter dari
kompleks Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu. Pesantren ini diyakini merupakan
salah satu pesantren tertua di Jawa. Di situs ini ada 8 Lingga (satu telah
pecah) dengan tinggi sekitar 0,6 meter dan 2 Yoni berukuran cukup besar,
panjang-lebar-tinggi berkisar 1 meter. Keduanya terbuat dari batu andesit yang
umum dijumpai di Lembah Kedungbener sebagai blok-blok masif yang bersumberkan
pada batuan plutonik (lakolit) di formasi Waturanda Pegunungan Karangsambung
yang sebagian bisa dilihat di Kaligending. Besarnya dimensi Yoni menunjukkan
artefak ini tergolong peninggalan masyarakat zaman dulu yang sudah menetap di
tempat tersebut. Ragam hias dinding dan cerat (saluran air) Yoni yang menunjukkan
langgam Jawa Tengah, sama dengan Yoni di kompleks percandian Gunung Wukir tempat
ditemukannya Prasasti Canggal dari abad 8 Masehi di Magelang. Sehingga bisa
ditarik kesimpulan bahwa tempat ini sudah dihuni manusia sejak abad 8 Masehi.
Ini tidak aneh karena pesisir Jawa Tengah bagian selatan menempati posisi
penting dalam Kerajaan Medang. Kabupaten Purworejo misalnya, sudah dihuni pada
era Sanjaya. Bahkan Rakai Watukura Dyah Balitung Shri Mahasambu (raja terbesar
Medang pasca Sanjaya dan Samaratungga) membangun kompleks percandian Prambanan,
Sewu, dan Plaosan.
Kembali
ke Situs Sumberadi, artefak di situs ini mungkin tidak berdiri sendiri, tetapi
bagian dari sebuah bangunan candi/altar pemujaan Hindu. Identifikasi adanya
candi (yang kini mungkin terpendam) nampak dari toponimi nama-nama daerah di
utaranya, yakni Candiwulan dan Candimulyo. Di Kebumen, nama Candimulyo juga
ditemukan di Kecamatan Adimulyo dan nama candi itu sendiri juga ada di
Karanganyar. Ditemukannya gundukan tanah dengan tumpukan batuan kuno di Dukuh
Tlimbeng Candimulyo semakin memperkuat dugaan keberadaan beberapa situs kuno
yang belum terungkap selain Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi tersebut. Tentu
saja hal ini perlu digali lebih lanjut oleh ahli sejarah dan tim arkeolog sehingga nantinya bisa menjadi aset sejarah Kebumen yang penting, terutama
menjadi bagian periodisasi peradaban masa lalu di Kebumen. Selain itu, di Situs
Sumberadi juga ada bongkahan-bongkahan batu bata berukuran besar (3 kali lebih
besar dari batu bata modern). Batu bata macam itu merupakan bahan bangunan
candi-candi langgam Jawa Timur (setelah abad 11 Masehi), berbeda dengan
candi-candi langgam Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit.
Dengan
melihat keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi maka dapat disimpulkan
bahwa telah ada kepercayaan Hindu kuno pada zaman Kerajaan Mataram Kuno
pra-Islam, yaitu Kerajaan Medang. Apalagi telah diketahui sebelumnya bahwa
pusat dari pemerintahan Medang sempat berpindah-pindah ke beberapa tempat di Jawa
Tengah, hingga pada akhirnya mendiami wilayah di Jawa Timur. Salah satu
pemerintahan Kerajaan Medang pernah
berada di wilayah yang disebut Mamrati dan Poh Pitu yang diperkirakan terletak
di daerah Karesidenan Kedu. Kota Kebumen
merupakan bagian dari wilayah Karesidenan Kedu. Secara arkeologis,
wilayah Karesidenan Kedu sangat sarat dengan peninggalan-peninggalan kuno baik
dari Dinasti Sanjaya maupun Dinasti Syailendra. Di wilayah Purworejo sendiri
terdapat Situs Candi Gondoarum, di mana di dalamnya terdapat Lingga dan Yoni
dari masa Mataram Hindu. Candi ini terletak satu kompleks dengan Gua Seplawan
yang terletak di Desa Dororejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa
Tengah.
Lingga-Yoni
Sumberadi Perlu Perawatan
Minimnya
data mengenai adanya sejarah Kerajaan Medang di Kebumen menimbulkan keasingan
bagi sekelompok masyarakat dan kalangan tertentu yang terlanjur berkiblat pada
buku-buku ulasan yang lazimnya beredar di kalangan akademisi. Hal itu terus
terjadi meskipun kini telah banyak bukti bermunculan, baik berupa data
penelitian lama maupun bukti artefak-artefak yang ditemukan di sepanjang Sungai
Lukulo dan beberapa wilayah lain yang tersebar di Kebumen. Adanya Lingga dan Yoni
di Situs Sumberadi Kebumen tetap saja belum membuka kesadaran kelompok
masyarakat yang kemungkinan antipati atau masa bodoh dengan perkembangan ilmu sejarah
dan peradaban di tanah kelahirannya. Tentunya fenomena ini sangat memprihatinkan,
sementara di daerah lain sendiri sejarah dan peradaban terus digali dengan
sungguh-sungguh karena terbukti sangat penting bagi pembentukan dan penguatan
karakter masyarakatnya.
Keberadaan
situs Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi perlu diselamatkan. Pemkab Kebumen
diminta segera menetapkan kawasan cagar budaya serta melakukan kajian
arkeologis atas dua peninggalan sejarah tersebut. Masyarakat setempat pun
menanggapi keberadaan Lingga dan Yoni ini kurang terawat. Masyarakat
menyarankan Pemkab Kebumen segera membentuk tim atau menunjuk OPD yang
berwenang melakukan kajian bekerja sama dengan arkeolog. Sebab, selain Lingga
dan Yoni, di Desa Candimulyo dan Candiwulan juga terdapat peninggalan benda
menyerupai candi yang perlu diteliti lagi. Masyarakat setempat menambahkan,
dengan memahami dan menyadari tentang apa dan bagaimana Kebumen pada zaman
pra-kemerdekaan dan pra-Islam, selayaknya masyarakat Kebumen patut bersyukur
dan berbangga bahwa warga ini berdiam di sebuah wilayah yang memiliki pengaruh
dan peradaban masa lalu yang agung.
Sumber:
Ananda. 2013. Terkuaknya Peradaban Kuno Kebumen. Diakses dari https://kebumen2013.com/terkuaknya-peradaban-kuno-kebumen. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 11.45 WIB.
Enakbangetsport. 2009. Sekilas Sejarah Kebumen. Diakses dari https://enakbangetsport.wordpress.com/2009/03/31/situs-kbm/amp/. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 12.31 WIB.
Hindarto, Teguh. 2013. Nilai Keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi. Diakses dari http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.co.id/2013/03/nilai-keberadaan-lingga-dan-yoni-di.html?m=1. Diunduh pada tanggal 30 Mei 2017 pukul 21.43 WIB.
Visit Kebumen. 2017. Tanpa Judul. Diakses dari akun Instagram @visitkebumen: http://thepicta.com/media/1445787212049690961_1771549628. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 17.09 WIB.
Wardopo, Komper. 2017. Lingga-Yoni Sumberadi Perlu Perawatan. Diakses dari http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/lingga-yoni-sumberadi-perlu-perawatan/. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 14.13 WIB.
Enakbangetsport. 2009. Sekilas Sejarah Kebumen. Diakses dari https://enakbangetsport.wordpress.com/2009/03/31/situs-kbm/amp/. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 12.31 WIB.
Hindarto, Teguh. 2013. Nilai Keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi. Diakses dari http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.co.id/2013/03/nilai-keberadaan-lingga-dan-yoni-di.html?m=1. Diunduh pada tanggal 30 Mei 2017 pukul 21.43 WIB.
Visit Kebumen. 2017. Tanpa Judul. Diakses dari akun Instagram @visitkebumen: http://thepicta.com/media/1445787212049690961_1771549628. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 17.09 WIB.
Wardopo, Komper. 2017. Lingga-Yoni Sumberadi Perlu Perawatan. Diakses dari http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/lingga-yoni-sumberadi-perlu-perawatan/. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 14.13 WIB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar