Sabtu, 14 April 2018

Keberadaan Lingga dan Yoni di Kabupaten Kebumen



Keberadaan peninggalan kuno di Kabupaten Kebumen bisa dilacak ke masa Dinasti Sanjaya di era Mataram Hindu. Ini ditandai dengan Lingga dan Yoni di Situs Desa Sumberadi (dahulu Somolangu), di tapal batas timur kota Kebumen. Lingga berupa tonggak batu dengan dasar persegi, bagian tengah segi delapan, dan bagian atas bulat tabung (gilig) sebagai lambang Dewa Siwa. Sementara Yoni sendiri berupa kotak batu dengan lubang persegi di tengahnya sebagai lambang Dewi Uparmati (istri Siwa). Dalam versi lain, Lingga melambangkan phallus (alat kelamin pria), sementara Yoni melambangkan wiwara (alat kelamin wanita). Kedua artefak ini bisa ditemukan bersamaan, di mana Lingga ditempatkan di dalam lubang Yoni. Penempatan seperti ini melambangkan kesuburan dan biasa dilakukan oleh kalangan masyarakat Hindu purba yang telah menetap dan terorganisir di suatu lokasi.

Terkuaknya Peradaban Hindu Kuno Kebumen
Situs Sumberadi berada di kompleks Taman Kanak-Kanak Sumberadi, 200 meter di utara alur Sungai Kedungbener. Lingga dan Yoni tersebut berada di samping MI AL Fatah, Desa Sumberadi. Lokasi Lingga dan Yoni itu hanya beberapa meter dari kompleks Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu. Pesantren ini diyakini merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa. Di situs ini ada 8 Lingga (satu telah pecah) dengan tinggi sekitar 0,6 meter dan 2 Yoni berukuran cukup besar, panjang-lebar-tinggi berkisar 1 meter. Keduanya terbuat dari batu andesit yang umum dijumpai di Lembah Kedungbener sebagai blok-blok masif yang bersumberkan pada batuan plutonik (lakolit) di formasi Waturanda Pegunungan Karangsambung yang sebagian bisa dilihat di Kaligending. Besarnya dimensi Yoni menunjukkan artefak ini tergolong peninggalan masyarakat zaman dulu yang sudah menetap di tempat tersebut. Ragam hias dinding dan cerat (saluran air) Yoni yang menunjukkan langgam Jawa Tengah, sama dengan Yoni di kompleks percandian Gunung Wukir tempat ditemukannya Prasasti Canggal dari abad 8 Masehi di Magelang. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa tempat ini sudah dihuni manusia sejak abad 8 Masehi. Ini tidak aneh karena pesisir Jawa Tengah bagian selatan menempati posisi penting dalam Kerajaan Medang. Kabupaten Purworejo misalnya, sudah dihuni pada era Sanjaya. Bahkan Rakai Watukura Dyah Balitung Shri Mahasambu (raja terbesar Medang pasca Sanjaya dan Samaratungga) membangun kompleks percandian Prambanan, Sewu, dan Plaosan.
Kembali ke Situs Sumberadi, artefak di situs ini mungkin tidak berdiri sendiri, tetapi bagian dari sebuah bangunan candi/altar pemujaan Hindu. Identifikasi adanya candi (yang kini mungkin terpendam) nampak dari toponimi nama-nama daerah di utaranya, yakni Candiwulan dan Candimulyo. Di Kebumen, nama Candimulyo juga ditemukan di Kecamatan Adimulyo dan nama candi itu sendiri juga ada di Karanganyar. Ditemukannya gundukan tanah dengan tumpukan batuan kuno di Dukuh Tlimbeng Candimulyo semakin memperkuat dugaan keberadaan beberapa situs kuno yang belum terungkap selain Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi tersebut. Tentu saja hal ini perlu digali lebih lanjut oleh ahli sejarah dan tim arkeolog sehingga nantinya bisa menjadi aset sejarah Kebumen yang penting, terutama menjadi bagian periodisasi peradaban masa lalu di Kebumen. Selain itu, di Situs Sumberadi juga ada bongkahan-bongkahan batu bata berukuran besar (3 kali lebih besar dari batu bata modern). Batu bata macam itu merupakan bahan bangunan candi-candi langgam Jawa Timur (setelah abad 11 Masehi), berbeda dengan candi-candi langgam Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit.
Dengan melihat keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi maka dapat disimpulkan bahwa telah ada kepercayaan Hindu kuno pada zaman Kerajaan Mataram Kuno pra-Islam, yaitu Kerajaan Medang. Apalagi telah diketahui sebelumnya bahwa pusat dari pemerintahan Medang sempat berpindah-pindah ke beberapa tempat di Jawa Tengah, hingga pada akhirnya mendiami wilayah di Jawa Timur. Salah satu pemerintahan Kerajaan Medang pernah berada di wilayah yang disebut Mamrati dan Poh Pitu yang diperkirakan terletak di daerah Karesidenan Kedu. Kota Kebumen  merupakan bagian dari wilayah Karesidenan Kedu. Secara arkeologis, wilayah Karesidenan Kedu sangat sarat dengan peninggalan-peninggalan kuno baik dari Dinasti Sanjaya maupun Dinasti Syailendra. Di wilayah Purworejo sendiri terdapat Situs Candi Gondoarum, di mana di dalamnya terdapat Lingga dan Yoni dari masa Mataram Hindu. Candi ini terletak satu kompleks dengan Gua Seplawan yang terletak di Desa Dororejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Lingga-Yoni Sumberadi Perlu Perawatan
Minimnya data mengenai adanya sejarah Kerajaan Medang di Kebumen menimbulkan keasingan bagi sekelompok masyarakat dan kalangan tertentu yang terlanjur berkiblat pada buku-buku ulasan yang lazimnya beredar di kalangan akademisi. Hal itu terus terjadi meskipun kini telah banyak bukti bermunculan, baik berupa data penelitian lama maupun bukti artefak-artefak yang ditemukan di sepanjang Sungai Lukulo dan beberapa wilayah lain yang tersebar di Kebumen. Adanya Lingga dan Yoni di Situs Sumberadi Kebumen tetap saja belum membuka kesadaran kelompok masyarakat yang kemungkinan antipati atau masa bodoh dengan perkembangan ilmu sejarah dan peradaban di tanah kelahirannya. Tentunya fenomena ini sangat memprihatinkan, sementara di daerah lain sendiri sejarah dan peradaban terus digali dengan sungguh-sungguh karena terbukti sangat penting bagi pembentukan dan penguatan karakter masyarakatnya.
Keberadaan situs Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi perlu diselamatkan. Pemkab Kebumen diminta segera menetapkan kawasan cagar budaya serta melakukan kajian arkeologis atas dua peninggalan sejarah tersebut. Masyarakat setempat pun menanggapi keberadaan Lingga dan Yoni ini kurang terawat. Masyarakat menyarankan Pemkab Kebumen segera membentuk tim atau menunjuk OPD yang berwenang melakukan kajian bekerja sama dengan arkeolog. Sebab, selain Lingga dan Yoni, di Desa Candimulyo dan Candiwulan juga terdapat peninggalan benda menyerupai candi yang perlu diteliti lagi. Masyarakat setempat menambahkan, dengan memahami dan menyadari tentang apa dan bagaimana Kebumen pada zaman pra-kemerdekaan dan pra-Islam, selayaknya masyarakat Kebumen patut bersyukur dan berbangga bahwa warga ini berdiam di sebuah wilayah yang memiliki pengaruh dan peradaban masa lalu yang agung.

Sumber:
Ananda. 2013. Terkuaknya Peradaban Kuno Kebumen. Diakses dari https://kebumen2013.com/terkuaknya-peradaban-kuno-kebumen. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 11.45 WIB.
Enakbangetsport. 2009. Sekilas Sejarah Kebumen. Diakses dari https://enakbangetsport.wordpress.com/2009/03/31/situs-kbm/amp/. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 12.31 WIB.
Hindarto, Teguh. 2013. Nilai Keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi. Diakses dari http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.co.id/2013/03/nilai-keberadaan-lingga-dan-yoni-di.html?m=1. Diunduh pada tanggal 30 Mei 2017 pukul 21.43 WIB.
Visit Kebumen. 2017. Tanpa Judul. Diakses dari akun Instagram @visitkebumen: http://thepicta.com/media/1445787212049690961_1771549628. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 17.09 WIB.
Wardopo, Komper. 2017. Lingga-Yoni Sumberadi Perlu Perawatan. Diakses dari http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/lingga-yoni-sumberadi-perlu-perawatan/. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 14.13 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kisah Lucu Letnan Komarudin Salah Melihat Tanggal pada Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949

Nama Letnan Komarudin tak bisa dipisahkan dari cerita mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949. Hal ini dikarenakan Letnan Komarudin bersa...