Suatu
pagi di awal 80-an, ramai orang berkumpul di pinggiran Jalan Sudirman, Kota
Semarang. Ternyata ditemukan tergeletak begitu saja sebuah karung goni tak
terikat, berisikan manusia telanjang dada. Ya, manusia. Dia mati tentunya.
Tubuhnya bertato. Seketika warga tahu bahwa wajah ini milik preman lokal yang
meresahkan warga. Namun, yang mengejutkan adalah bahwa ia bukan “manusia karung”
pertama. Sebelumnya, sudah sekian mayat preman ditemukan. Sebagian berkarung
goni, sebagian telentang begitu saja. Kesamaannya dua: sama-sama preman,
sama-sama tak bernyawa. Ada yang punya luka tembak, ada yang hanya bekas-bekas
ikatan. Masyarakat tahu ini ulah siapa, ya dia adalah Petrus.
Siapa
Petrus? Petrus alias “penembak misterius” ada untuk membasmi preman pada kurun waktu 1983-1985.
Operasi dilakukan atas perintah Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani pada masa
rezim Orde Baru. Mereka ditugaskan untuk memberantas kejahatan jalanan, semacam
Bromocorah, Gabungan Anak Liar (Gali), preman, dan sebagainya. Petrus muncul
sebagai gerombolan orang tak dikenal yang suka muncul tiba-tiba. Membawa mobil
dan menculik preman yang sudah dikenali, untuk besok atau lusanya dilepaskan
dalam karung goni dalam keadaan tak bernyawa. Petrus menghabisi para preman ini tanpa proses
peradilan. Jika tidak ditembak, para preman akan dijerat tali sampai mati. Lalu
untuk shock theraphy, sengaja
mayatnya dibuang agar jadi tontonan dan membuat preman lain keder.
Petrus
ada karena Pak Harto mendengar hal yang sama soal preman sebagaimana kabar yang
beredar dan peristiwa yang sudah terjadi. Preman saat itu merampok, mencuri,
hingga (kabarnya) memperkosa korbannya. “Itu
sudah keterlaluan! Apa hal itu mau didiamkan saja? Dengan sendirinya kita harus
mengadakan treatment, tindakan tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan
kekerasan. Namun, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan 'dor! dor!' begitu saja.
Bukan! Akan tetapi, yang melawan ya mau tidak mau ditembak,” kata Pak Harto
dalam buku biografinya yang ditulis Ramadhan KH dan G. Dwipayana.
Pengalaman
buruk soal Petrus sempat dialami oleh Toni, warga Margahayu, Bandung. Pada
tahun 1980-an, Toni menjadi korban salah tangkap para Petrus yang disinyalir
sebagai orang-orang terlatih. Di Rukun Warga (RW), tempatnya tinggal waktu itu
ada dua nama Toni. Toni yang dicari adalah preman yang suka meminta uang secara
paksa ke tukang parkir di Terminal Kebon Kelapa. Sedangkan Toni yang ditangkap
adalah seorang guru. Pada suatu malam, Toni dikejutkan dengan kedatangan
sejumlah pria yang memaksanya masuk ke dalam mobil Land Rover. Di dalam mobil,
muka Toni ditutup kain hitam, dan lehernya sudah dijerat dengan tali. “Saya bukan preman, saya guru. Saya sampai
sumpah-sumpah,” ungkap Toni menceritakan pengalamannya ini ke para
tetangga. Mendengar itu, salah seorang Petrus memerintahkan agar identitas Toni
diperiksa. Setelah KTP-nya dicek, dan para pembunuh berdarah dingin meyakini
kalau salah orang, akhirnya Toni dibebaskan setelah dibuang di Cikole, sekitar
16 kilometer dari rumahnya. Beberapa bulan kemudian, Toni yang dicari-cari
ditemukan tewas mengenaskan di pinggir jalan Kota Bandung. Warga meyakini si
tukang palak itu tewas di tangan Petrus.
Komnas
HAM mencatat ada 2.000 korban selama Petrus gentayangan.
Sumber lain menyebutkan korban Petrus malah mencapai 10.000 orang. Aksi Petrus
menuai pro dan kontra. Jajaran tentara merasa tidak perlu mempermasalahkan soal
kematian misterius karena yang dituju adalah keselamatan dan keamanan 150 juta
rakyat Indonesia saat itu. Namun, pada 2012 lalu, Komnas HAM menyimpulkan
Petrus adalah pelanggaran HAM berat. ”Sekalipun
mereka penjahat, tetapi sebagai manusia berhak mendapat keadilan melalui
lembaga peradilan. Dan menembak mati di tempat, meskipun oleh petugas negara,
jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan,” kata Ketua Yayasan
Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Adnan Buyung Nasution.
Lantas,
jika sekarang muncul tuntutan pertanggungjawaban atas tragedi Petrus, siapa
yang harus bertanggung jawab?
Sumber:
Sejarah RI. Tanpa Tahun. Soeharto Utus Petrus, Preman Sembunyi di Gunung
Lawu. Diakses dari http://sejarahri.com/soeharto-utus-petrus-preman-sembunyi-di-gunung-lawu/. Diunduh pada tanggal 15 April 2018 pukul 15.15 WIB.
Syafirdi, Didi. 2013. Kisah Mereka yang Lolos dari Petrus di Zaman
Soeharto. Diakses dari https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-mereka-yang-lolos-dari-petrus-di-zaman-soeharto.html.
Diunduh pada tanggal 15 April 2018 pukul 15.28 WIB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar