Minggu, 15 April 2018

Petrus, Terapi Kejut "The Smiling General"


Suatu pagi di awal 80-an, ramai orang berkumpul di pinggiran Jalan Sudirman, Kota Semarang. Ternyata ditemukan tergeletak begitu saja sebuah karung goni tak terikat, berisikan manusia telanjang dada. Ya, manusia. Dia mati tentunya. Tubuhnya bertato. Seketika warga tahu bahwa wajah ini milik preman lokal yang meresahkan warga. Namun, yang mengejutkan adalah bahwa ia bukan “manusia karung” pertama. Sebelumnya, sudah sekian mayat preman ditemukan. Sebagian berkarung goni, sebagian telentang begitu saja. Kesamaannya dua: sama-sama preman, sama-sama tak bernyawa. Ada yang punya luka tembak, ada yang hanya bekas-bekas ikatan. Masyarakat tahu ini ulah siapa, ya dia adalah Petrus.
Siapa Petrus? Petrus alias “penembak misterius” ada untuk membasmi preman pada kurun waktu 1983-1985. Operasi dilakukan atas perintah Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani pada masa rezim Orde Baru. Mereka ditugaskan untuk memberantas kejahatan jalanan, semacam Bromocorah, Gabungan Anak Liar (Gali), preman, dan sebagainya. Petrus muncul sebagai gerombolan orang tak dikenal yang suka muncul tiba-tiba. Membawa mobil dan menculik preman yang sudah dikenali, untuk besok atau lusanya dilepaskan dalam karung goni dalam keadaan tak bernyawa. Petrus menghabisi para preman ini tanpa proses peradilan. Jika tidak ditembak, para preman akan dijerat tali sampai mati. Lalu untuk shock theraphy, sengaja mayatnya dibuang agar jadi tontonan dan membuat preman lain keder.
Petrus ada karena Pak Harto mendengar hal yang sama soal preman sebagaimana kabar yang beredar dan peristiwa yang sudah terjadi. Preman saat itu merampok, mencuri, hingga (kabarnya) memperkosa korbannya. “Itu sudah keterlaluan! Apa hal itu mau didiamkan saja? Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment, tindakan tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Namun, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan 'dor! dor!' begitu saja. Bukan! Akan tetapi, yang melawan ya mau tidak mau ditembak,” kata Pak Harto dalam buku biografinya yang ditulis Ramadhan KH dan G. Dwipayana.
Pengalaman buruk soal Petrus sempat dialami oleh Toni, warga Margahayu, Bandung. Pada tahun 1980-an, Toni menjadi korban salah tangkap para Petrus yang disinyalir sebagai orang-orang terlatih. Di Rukun Warga (RW), tempatnya tinggal waktu itu ada dua nama Toni. Toni yang dicari adalah preman yang suka meminta uang secara paksa ke tukang parkir di Terminal Kebon Kelapa. Sedangkan Toni yang ditangkap adalah seorang guru. Pada suatu malam, Toni dikejutkan dengan kedatangan sejumlah pria yang memaksanya masuk ke dalam mobil Land Rover. Di dalam mobil, muka Toni ditutup kain hitam, dan lehernya sudah dijerat dengan tali. “Saya bukan preman, saya guru. Saya sampai sumpah-sumpah,” ungkap Toni menceritakan pengalamannya ini ke para tetangga. Mendengar itu, salah seorang Petrus memerintahkan agar identitas Toni diperiksa. Setelah KTP-nya dicek, dan para pembunuh berdarah dingin meyakini kalau salah orang, akhirnya Toni dibebaskan setelah dibuang di Cikole, sekitar 16 kilometer dari rumahnya. Beberapa bulan kemudian, Toni yang dicari-cari ditemukan tewas mengenaskan di pinggir jalan Kota Bandung. Warga meyakini si tukang palak itu tewas di tangan Petrus.
Komnas HAM mencatat ada 2.000 korban selama Petrus gentayangan. Sumber lain menyebutkan korban Petrus malah mencapai 10.000 orang. Aksi Petrus menuai pro dan kontra. Jajaran tentara merasa tidak perlu mempermasalahkan soal kematian misterius karena yang dituju adalah keselamatan dan keamanan 150 juta rakyat Indonesia saat itu. Namun, pada 2012 lalu, Komnas HAM menyimpulkan Petrus adalah pelanggaran HAM berat. ”Sekalipun mereka penjahat, tetapi sebagai manusia berhak mendapat keadilan melalui lembaga peradilan. Dan menembak mati di tempat, meskipun oleh petugas negara, jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan,” kata Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Adnan Buyung Nasution.
Lantas, jika sekarang muncul tuntutan pertanggungjawaban atas tragedi Petrus, siapa yang harus bertanggung jawab?

Sumber:
Sejarah RI. Tanpa Tahun. Soeharto Utus Petrus, Preman Sembunyi di Gunung Lawu. Diakses dari http://sejarahri.com/soeharto-utus-petrus-preman-sembunyi-di-gunung-lawu/. Diunduh pada tanggal 15 April 2018 pukul 15.15 WIB.
Syafirdi, Didi. 2013. Kisah Mereka yang Lolos dari Petrus di Zaman Soeharto. Diakses dari https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-mereka-yang-lolos-dari-petrus-di-zaman-soeharto.html. Diunduh pada tanggal 15 April 2018 pukul 15.28 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kisah Lucu Letnan Komarudin Salah Melihat Tanggal pada Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949

Nama Letnan Komarudin tak bisa dipisahkan dari cerita mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949. Hal ini dikarenakan Letnan Komarudin bersa...