Minggu, 03 Juni 2018

Kisah Lucu Letnan Komarudin Salah Melihat Tanggal pada Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949



Nama Letnan Komarudin tak bisa dipisahkan dari cerita mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949. Hal ini dikarenakan Letnan Komarudin bersama sejumlah pasukannya salah tanggal dalam menyerang Kota Yogyakarta yang saat itu dikuasai Belanda pada Agresi Militer II. Jabatan Letnan Komarudin ketika itu adalah komandan peleton di SWK 101, Brigade X pimpinan Mayor Sardjono (anak buah Letnan Kolonel Soeharto).
Semua persiapan dilakukan dengan sangat rahasia dan hati-hati. Seluruh pasukan sudah diberitahu waktu penyerangan pukul 06.00 WIB, 1 Maret 1949. Begitu sirine tanda jam malam berakhir, saat itulah tembakan dilepaskan. Nah, tiba-tiba tanggal 28 Februari 1949, begitu sirine berbunyi, tembakan gencar terdengar.
Letnan Komarudin memimpin peletonnya menyerang salah satu tangsi Belanda. Letnan Komarudin dengan gagah berani bersama pasukannya menyerang salah satu pos tentara Belanda ketika itu. Belanda pun balas menembak. Padahal seharusnya serangan dilakukan keesokan harinya pada 1 Maret 1949. Letnan Komarudin mengacaukan jadwal serangan ke Kota Yogyakarta.
Terdengarnya serentetan tembakan membuat Letkol Soeharto kaget bukan kepalang. Dia pun menanyakan perihal tembakan itu kepada Letkol Sugiono. Tak seorang pun menjawab hingga datang orang lainnya dengan tergopoh-gopoh memberitahu jika tembakan berasal dari kompi Letnan Komarudin yang melancarkan serangan. Letkol Soeharto segera mengutus Letnan Gideon dan Sersan Sujud untuk menemui kompi ‘lupa tanggal’ tersebut.
Letkol Soeharto takut serangan Letnan Komarudin akan membuka rahasia Serangan Umum 1 Maret. Letkol Soeharto khawatir pada waktu itu akan ada pembalasan tentara Belanda terhadap rakyat di kota, yang lantas rakyat yang tidak berdosa ditakutkan ikut ditembaki.
Letnan Komarudin tak menggubris teriakan Letnan Gideon sampai dia mendengar jika hari itu masih tanggal 28 Februari 1949 dari Gideon. "Aduh, Ya Allah... Saya keliru kalau begitu. Celaka! Bagaimana, saya diperintahkan mundur ya?”, tanya Komarudin pada Letnan Gideon. Sesaat kemudian, secara perlahan kompi Letkol Komarudin mundur. Muka anak buah Letnan Komarudin nampak kesal dan menggerutu atas ulah komandan mereka. Ada juga yang tersenyum geli karena mereka juga tak ingat tanggal sehingga tak dapat mengingatkan komandannya yang lupa tersebut.
Untungnya Belanda tidak membalas serangan dari TNI. Belanda malah lengah karena mengira serangan besar yang santer akan dilakukan TNI itu adalah serangan yang dilakukan Letnan Komarudin. 
Selain itu, Letnan Komarudin juga dikenal kebal peluru saat ditembaki tentara Belanda. Hal itu disaksikan beberapa anak buahnya yang dikemudian hari bersaksi atas kekebalan dirinya. Bahkan aksi kekebalannya ini muncul dalam film Janur Kuning (1979), film yang mengisahkan keberhasilan TNI menguasai Kota Yogyakarta selama 6 jam pada 1 Maret 1949.
Aksi heroik Letnan Komarudin saat serangan yang salah tanggal ini pun mendapat pujian dari Panglima Besar Jenderal Soedirman. Dalam upacara di Yogyakarta usai Serangan Umum 1 Maret ketika memeriksa barisan prajurit TNI, Jenderal Soedirman menghampiri Letnan Komarudin. Ketika dihampiri sang panglima, Letnan Komarudin langsung meminta maaf karena dia melakukan kesalahan dalam menghitung hari. Namun, oleh Jenderal Soedirman dia dianggap tidak bersalah.
Akan tetapi, karier Letnan Komarudin di kemiliteran meredup setelah wafatnya Jenderal Soedirman. Dalam buku "Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi Yogya" oleh Daud Sinjal, dituliskan tentang tuduhan sebagian kalangan militer yang menyebut Letnan Komarudin terlibat dalam gerakan DI/TII.
Namun, tuduhan persekongkolan dengan DI/TII tersebut ternyata tidak benar dan nama Letnan Komarudin kemudian mendapat rehabilitasi. Akan tetapi, upaya rehabilitasi tak otomatis membuat karier ketentaraannya kembali menanjak. Setelah dia mendapat rehabilitasi, secara resmi Letnan Komarudin mundur dari ketentaraan. Dia memilih dunia jalanan sebagai jalur hidupnya. Di Kotagede, namanya terkenal sekaligus disegani sebagai preman yang baik hati.
Sekitar 1969, Letnan Komarudin secara misterius tiba-tiba menghilang dari Kotagede. Soetojo alias Boyo, teman seperjuangannya waktu melawan Belanda, lantas mencarinya hingga ke Jakarta sekitar setahun kemudian.
Di ibukota, Boyo menemukan Letnan Komarudin di wilayah Cempaka Putih. Dia tinggal di sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah-tengah rawa (tanah milik Kodam V Jaya kala itu). Dia menghidupi kesehariannya dengan bekerja sebagai seorang preman yang ditakuti di wilayah Pasar Senen karena Letnan Komarudin kebal terhadap senjata api dan tajam.
Setelah dibujuk terus oleh sahabatnya (Toyo Boyo), pada sekitar 1972, Letnan Komarudin akhirnya kembali ke Kotagede. Tak lama sampai di kota tersebut, dia kemudian jatuh sakit hingga mengalami koma. Letnan Komarudin kemudian dirawat di Pusat Kesehatan Umat (PKU) milik Muhammadiyyah. Sewaktu dirawat di sana, ada cerita menarik karena Letnan Komarudin tak mempan disuntik sehingga dikeluhkan oleh dokter yang merawatnya.
Pada tahun 1973, Letnan Komarudin akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir di PKU Kotagede. Jasadnya kemudian dikebumikan secara militer di Taman Kesuma Negara Semaki Yogyakarta. Begitu populernya nama Letnan Komarudin hingga di wilayah Sleman, ada sebuah masjid yang disemati namanya, Masjid Al-Komarudin.
Ada versi lain yang menyebutkan setelah Letnan Komarudin mengundurkan diri dari dunia militer, dia bersama istrinya yang berasal dari Jawa kembali ke Maluku Tenggara dan tinggal di desa kelahirannya, Ohoidertutu. Di sana dia menghabiskan sisa hidupnya hingga akhir hayatnya. Dia sempat diminta mantan presiden ke-2, Soeharto, untuk kembali ke Jakarta agar ketika meninggal nanti akan diberi gelar pahlawan. Akan tetapi, dia menolak dan lebih memilih tinggal di desa kelahirannya.

Sumber:
Fadillah, Ramadhian. 2014. Kisah Lucu Letnan Komarudin Salah Lihat Tanggal, Serang Belanda. Diakses dari https://googleweblight.com/i?u=https://m.merdeka.com/peristiwa/kisah-lucu-letnan-komarudin-salah-lihat-tanggal-serang-belanda.html&hl=en-ID&geid=1026.  Diunduh pada tanggal 5 Mei 2018 pukul 18.22 WIB.
Listiyawan, Irfantoni. Kisah Letnan Komarudin dan Peristiwa 28 Februari 1949. Diakses dari https://googleweblight.com/i?u=https://indonesiana.tempo.co/read/123162/2018/02/28/irfantoni77/kisah-letnan-komarudin-dan-peristiwa-28-februari-1949&hl=en-ID&geid=1026. Diunduh pada tanggal 5 Mei 2018 pukul 18.28 WIB.
SM Said. 2017. Letnan Komarudin, Prajurit Kebal Peluru dan Serangan Umum 1 Maret. Diakses dari https://googleweblight.com/i?u=https://daerah.sindonews.com/read/1185541/29/letnan-komarudin-prajurit-kebal-peluru-dan-serangan-umum-1-maret-1488729037&hl=en-ID&geid=1026. Diunduh pada tanggal 5 Mei 2018 pukul 18.23 WIB.

Jumat, 04 Mei 2018

Sosok Heroik "Tank Man"


"Tank Man" atau "Unknown Rebel" adalah sebuah julukan yang diberikan kepada seorang pengunjuk rasa di Lapangan Tiananmen (China) pada tanggal 5 Juni 1989. Orang yang hingga saat ini tidak diketahui namanya itu menjadi terkenal ketika aksi protesnya direkam, dipotret, dan dipublikasikan ke seluruh dunia. Dalam peristiwa tersebut, sang pengunjuk rasa berdiri menentang 13 barisan tank Tipe 59 Tiongkok dan menghentikan lajunya. Peristiwa tersebut menjadi berita utama di ratusan koran, majalah, dan siaran berita besar di seluruh dunia. Pada bulan April 1998, majalah TIME dari Amerika Serikat memasukan sang "Tank Man" sebagai 100 orang yang paling berpengaruh pada abad ke-20. Loh, kok bisa?
Dia menjadi ikon perlawanan heroik terhadap kekuasaan Partai Komunis China (PKC) yang menumpas mahasiswa pro-demokrasi menggunakan mesin-mesin perang pada Peristiwa Tiananmen (3-4 Juni 1989). Aksi "Tank Man" itu sendiri terjadi di dekat Chang'an Avenue, yang membentang timur-barat sepanjang ujung selatan Kota Terlarang di Beijing, satu hari setelah tentara Cina melakukan kekerasan pada pengunjuk rasa di Lapangan Tiananmen.
Pria itu berjalan di jalur kendaraan lapis baja. Dia memegang tas belanja di kedua tangannya. Pria itu menunjuk ke tank yang mendekat, tetapi tak ditanggapi. Lama-kelamaan keduanya saling mendekat. Orang-orang di sekitar sudah menghalaunya untuk pergi, tetapi dia tak bergeming. Tanpa diduga, justru pasukan tank-lah yang berhenti setelah berjarak sekitar 2 meter dari tempat pria itu berdiri. Setelah berhenti, pria tersebut nampak melompat ke atas tank dan berbicara dengan awak di dalamnya. Percakapan pun selesai, dia melompat dan tank meneruskan jalannya. Tiba-tiba dua orang berseragam biru membawa pria itu dan menghilang di balik kerumunan. Banyak polemik mengenai hal ini, apakah dia dibawa oleh intel atau sipil.
Hanya sedikit informasi mengenai pria itu. Tabloid Inggris, Sunday Express, menulisnya sebagai Wang Weilin, seorang mahasiswa 19 tahun yang kemudian dituduh sebagai perusuh oleh Partai Komunis Cina (PKC) yang coba menumbangkan Tentara Pembebasan Rakyat. Namun, hal ini dibantah oleh Partai Komunis Cina lewat dokumen pribadi. Mereka malah tidak bisa menemukan pria tersebut. "Kami hanya tahu namanya dari wartawan. Setelah dicari identitasnya, tetap tak ketemu, apakah dia sudah mati atau dipenjara," tutur salah seorang anggota Partai Komunis China.
Keberadaan "Tank Man" menjadi rumor yang hingga kini masih diperdebatkan. Ada yang bilang dia dieksekusi 14 hari setelah peristiwa itu, ada pula yang bilang dia masih hidup dan bersembunyi di dataran Cina. Siapapun dia, "Tank Man" telah menjadi simbol Peristiwa Tiananmen dan ikon abad ke-20.

(Dikutip dari berbagai sumber)

Selasa, 17 April 2018

Revitalisasi Politik Akal Sehat


Apa yang pertama kali muncul dalam setiap benak masyarakat jika terngiang kata “politik”? Sebagian orang akan memaknai politik sebagai kewenangan, kekuasaan, kepentingan, takhta, atau supremasi. Tidak dapat dielakkan lagi bahwa sejatinya setiap manusia tidak akan jauh dari politik. Dengan adanya politik, permasalahan yang ada di masyarakat dapat terpecahkan. Namun, tak sedikit pula yang mengkonotasikan politik sebagai sesuatu yang kotor, keji, bejat, korup, dan segala umpatan yang menjustifikasi politik pada serendah-rendahnya hal ihwal perpolitikan. Sebuah pola pemikiran yang menurut saya berpotensi, dan mungkin sudah mengakar di otak-otak masyarakat yang pada akhirnya dapat menimbulkan efek domino terhadap tatanan cara pandang masyarakat terhadap politik.
Bahu-membahu reformasi pada 20 tahun silam belum selayaknya dikatakan berhasil, yang ada kini hanya saling sikut antar kubu pendukung yang mengatasnamakan diri sebagai pendukung pemerintah melawan pendukung oposisi. Kontradiksi antar dua kubu inilah yang dinilai oleh sebagian masyarakat awam politik bahwa politik itu hanyalah kisaran “rivalitas oligarki” semata.
Jika boleh dikata, saya menganggap masyarakat yang terendus kefanatikan, dan juga mereka yang acuh terhadap politik adalah masyarakat yang sama-sama merem dan melenceng dari tujuan terciptanya sistem politik. Tidak bermaksud mengintimidasi, sadar atau tidak politik Indonesia saat ini adalah politik yang tidak sehat. Bukan karena pernyataan atau manuver-manuver dari penentang pemerintahan, tetapi masyarakat itu sendiri yang sangat dan dengan mudahnya terprovokasi. Berdalih menegakkan demokrasi, tetapi secara tidak langsung merobohkan sendi-sendi demokrasi itu sendiri.
Bisa mengambil contoh kasus pidato ‘brilian’ Prabowo Subianto dalam acara konferensi dan temu kader nasional Partai Gerindra di Bogor, Jawa Barat, Oktober tahun 2017 lalu. Beliau mengatakan bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Beliau mengatakan hal ini hanya bersumber dari sebuah novel fiksi berjudul “Ghost Fleet” yang dikarang oleh Peter W. Singer dan August Cole. Jelas dan pasti bagi mereka yang ‘dangkal’ akan kebakaran jenggot mendengarnya. Sosial media menjadi pembantaian bagi mereka-mereka (simpatisan istana) yang ingin melampiaskan ketidaksetujuan akan pidato dari “musuh bebuyutan”.
Sebenarnya, di mana letak keanehannya? Saya beranggapan bahwa Prabowo mengatakan ini bukanlah tanpa sebab. Prabowo hanya mewanti-wanti agar Indonesia bisa saja bubar di suatu saat. Bubar di sini bukan diartikan bangunan runtuh, lenyap dalam semalam akibat bencana mahadasyat, atau khayalan-khayalan yang tak mendasar lainnya. Menurut budayawan, Emha Ainun Nadjib, Indonesia pada 2030 justru menjadi negara yang besar dengan kemajuan industri, perekonomian yang berkembang, dan daya beli masyarakat yang membaik. Masalahnya, saat itu pula kita akan tetap menjadi pelayan, kita tetap dalam posisi menjadi pegawai rendahan yang bergantung kepada para pemilik modal yang menguasai aset negara.
Masyarakat saat ini kebanyakan ogah berkaca pada sejarah. Pada 1997, seluruh ekonom di lembaga pemerintah, termasuk juga para ekonom asing, meramalkan perekonomian Indonesia sehat-sehat saja. Akan tetapi, pada saat itu hanya Rizal Ramli ekonom yang kritis terhadap rentetan situasi internal perekonomian Indonesia yang mana ramalannya terbukti benar bahwa akan ada Krisis Finansial Asia pada tahun 1997. Pada saat itu, tidak ada yang percaya akan analisisnya. Baru-baru ini, Fadli Zon dalam suatu acara stasiun televisi swasta juga mengatakan bahwa pada tahun 1993 Bank Dunia telah memprediksi akan terjadi kolaps ekonomi pada tahun 1997 di Asia. Tak tanggung-tanggung, dijabarkan pula tahapan-tahapannya.
Fadli Zon sendiri adalah orang yang getol menentang rezim saat ini. Wajar! Notabene dia berada di partai oposisi pemerintah dan dia juga seorang anggota DPR yang mana berhak untuk mengkritisi pimpinannya. Nahasnya, sosial media membuat namanya bak sampah masyarakat. Apapun yang diutarakan seorang Fadli Zon, di mana-mana hanya ada hujatan dan meme-meme menggelitik. Di sinilah masyarakat seyogyanya harus lebih mau untuk mencari tahu apa fungsi dari oposisi dan batasan-batasannya.
Bukan berarti memihak, tetapi coba bayangkan bagaimana situasi sebuah negara yang sedang diperintah oleh sebuah rezim tanpa pengontrol di dalamnya? Begitu leluasanya para tirani nantinya, bukan? Jadi apa hakikat demokrasi itu? Bukankan adanya oposisi mencerminkan bahwa demokrasi negara kita itu sedang sehat-sehatnya? Rezim dan oposisi memang berbeda pandangan, mereka mempunyai alat tunggangan masing-masing, tetapi pada dasarnya mereka mempunyai intensi yang sama.
Kembali, media menggembor-gemborkan sesuatu yang hanya membuat negara terpecah-belah. Mengatasnamakan “obrolan politik” yang pada dasarnya menyudutkan pihak-pihak yang tidak sejalan dengan ideologi mereka dan hanya menimbulkan perang kolom komentar tanpa ada substansi yang jelas. Sosial media adalah ajang diskusi pemikiran dan pemahaman untuk kepentingan birokrasi, bukan “beda berarti lawan”. Fatal! Yang ada kebebasan berpendapat tak lagi longgar. Ada satu hal yang saya dapat dari seorang panelis muda, Pangeran Siahaan, “Kritik paling tajam dan paling konsisten kepada seorang politisi atau pejabat publik harusnya diberikan kepada konstituennya (pemilihnya) karena mereka yang satu alur dengan si figur.”
 Masyarakat harus lebih bijak dan melek akan tujuan politik yang telah dibungkus dengan modernitas dari sisa-sisa perjuangan revolusi para pahlawan terdahulu. Tujuan-tujuan politik yang saat ini sudah terkesan busuk, harus dikembalikan sesuai fitrahnya. Fanatik boleh, tetapi tidak harus mengorbankan diri untuk rela “menjilat kaki sang politisi” sekalipun. Menjadikan forum-forum sebagai diskusi cerdas, tanpa ada unsur provokasi. Awam politik pun tak perlu menggebu-gebu, setidaknya perasaan-perasaan skeptis terhadap politik harus disingkirkan karena pada dasarnya masyarakat adalah sebaik-baiknya pengontrol kekuasaan.

Oleh: Setyo Adi Nugroho (17 April 2018)

Minggu, 15 April 2018

Petrus, Terapi Kejut "The Smiling General"


Suatu pagi di awal 80-an, ramai orang berkumpul di pinggiran Jalan Sudirman, Kota Semarang. Ternyata ditemukan tergeletak begitu saja sebuah karung goni tak terikat, berisikan manusia telanjang dada. Ya, manusia. Dia mati tentunya. Tubuhnya bertato. Seketika warga tahu bahwa wajah ini milik preman lokal yang meresahkan warga. Namun, yang mengejutkan adalah bahwa ia bukan “manusia karung” pertama. Sebelumnya, sudah sekian mayat preman ditemukan. Sebagian berkarung goni, sebagian telentang begitu saja. Kesamaannya dua: sama-sama preman, sama-sama tak bernyawa. Ada yang punya luka tembak, ada yang hanya bekas-bekas ikatan. Masyarakat tahu ini ulah siapa, ya dia adalah Petrus.
Siapa Petrus? Petrus alias “penembak misterius” ada untuk membasmi preman pada kurun waktu 1983-1985. Operasi dilakukan atas perintah Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani pada masa rezim Orde Baru. Mereka ditugaskan untuk memberantas kejahatan jalanan, semacam Bromocorah, Gabungan Anak Liar (Gali), preman, dan sebagainya. Petrus muncul sebagai gerombolan orang tak dikenal yang suka muncul tiba-tiba. Membawa mobil dan menculik preman yang sudah dikenali, untuk besok atau lusanya dilepaskan dalam karung goni dalam keadaan tak bernyawa. Petrus menghabisi para preman ini tanpa proses peradilan. Jika tidak ditembak, para preman akan dijerat tali sampai mati. Lalu untuk shock theraphy, sengaja mayatnya dibuang agar jadi tontonan dan membuat preman lain keder.
Petrus ada karena Pak Harto mendengar hal yang sama soal preman sebagaimana kabar yang beredar dan peristiwa yang sudah terjadi. Preman saat itu merampok, mencuri, hingga (kabarnya) memperkosa korbannya. “Itu sudah keterlaluan! Apa hal itu mau didiamkan saja? Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment, tindakan tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Namun, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan 'dor! dor!' begitu saja. Bukan! Akan tetapi, yang melawan ya mau tidak mau ditembak,” kata Pak Harto dalam buku biografinya yang ditulis Ramadhan KH dan G. Dwipayana.
Pengalaman buruk soal Petrus sempat dialami oleh Toni, warga Margahayu, Bandung. Pada tahun 1980-an, Toni menjadi korban salah tangkap para Petrus yang disinyalir sebagai orang-orang terlatih. Di Rukun Warga (RW), tempatnya tinggal waktu itu ada dua nama Toni. Toni yang dicari adalah preman yang suka meminta uang secara paksa ke tukang parkir di Terminal Kebon Kelapa. Sedangkan Toni yang ditangkap adalah seorang guru. Pada suatu malam, Toni dikejutkan dengan kedatangan sejumlah pria yang memaksanya masuk ke dalam mobil Land Rover. Di dalam mobil, muka Toni ditutup kain hitam, dan lehernya sudah dijerat dengan tali. “Saya bukan preman, saya guru. Saya sampai sumpah-sumpah,” ungkap Toni menceritakan pengalamannya ini ke para tetangga. Mendengar itu, salah seorang Petrus memerintahkan agar identitas Toni diperiksa. Setelah KTP-nya dicek, dan para pembunuh berdarah dingin meyakini kalau salah orang, akhirnya Toni dibebaskan setelah dibuang di Cikole, sekitar 16 kilometer dari rumahnya. Beberapa bulan kemudian, Toni yang dicari-cari ditemukan tewas mengenaskan di pinggir jalan Kota Bandung. Warga meyakini si tukang palak itu tewas di tangan Petrus.
Komnas HAM mencatat ada 2.000 korban selama Petrus gentayangan. Sumber lain menyebutkan korban Petrus malah mencapai 10.000 orang. Aksi Petrus menuai pro dan kontra. Jajaran tentara merasa tidak perlu mempermasalahkan soal kematian misterius karena yang dituju adalah keselamatan dan keamanan 150 juta rakyat Indonesia saat itu. Namun, pada 2012 lalu, Komnas HAM menyimpulkan Petrus adalah pelanggaran HAM berat. ”Sekalipun mereka penjahat, tetapi sebagai manusia berhak mendapat keadilan melalui lembaga peradilan. Dan menembak mati di tempat, meskipun oleh petugas negara, jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan,” kata Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Adnan Buyung Nasution.
Lantas, jika sekarang muncul tuntutan pertanggungjawaban atas tragedi Petrus, siapa yang harus bertanggung jawab?

Sumber:
Sejarah RI. Tanpa Tahun. Soeharto Utus Petrus, Preman Sembunyi di Gunung Lawu. Diakses dari http://sejarahri.com/soeharto-utus-petrus-preman-sembunyi-di-gunung-lawu/. Diunduh pada tanggal 15 April 2018 pukul 15.15 WIB.
Syafirdi, Didi. 2013. Kisah Mereka yang Lolos dari Petrus di Zaman Soeharto. Diakses dari https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-mereka-yang-lolos-dari-petrus-di-zaman-soeharto.html. Diunduh pada tanggal 15 April 2018 pukul 15.28 WIB.

Sabtu, 14 April 2018

Abdurrahman Wahid, Islam, dan Negara: Pendekatan Sosio-Kultural


Pendahuluan
Ada tiga pandangan berkaitan dengan hubungan Islam dan negara di era modern, yaitu teokratis (Islam sebagai agama dan negara, seperti Arab Saudi dan Iran), sekularis (agama dipisahkan dari negara, seperti di Turki), dan fiqih (mutual legalitas agama dan negara, seperti Indonesia). Dalam pendekatan ideologis dapat ditambahkan kelompok komunis. Pada pendekatan fiqih yang mengenai hubungan Islam dengan negara meyakini bahwa negara dan agama harus saling memberi legitimasi. Pendekatan fiqih mengadopsi tradisi pemikiran Aswaja (ahl-Sunnah wal-jamaah), yang dalam melihat semua aspek kehidupan, termasuk negara, menggunakan metode berpikir keagamaan yang berlandaskan atas dasar-dasar modernisasi, menjaga keseimbangan, dan toleran. Mekanisme bagi operasionalisasi metode Aswaja adalah dengan menggunakan ushul fiqh dan qa’idah fiqiyah. Pendekatan fiqih itulah yang menjadikan NU mendukung eksistensi NKRI yang dasarnya Pancasila, bukan Islam. Persetujuan Abdurrahman Wahid pada sekularisasi hanya untuk menghindari terjadinya politisasi agama maupun sakralisasi politik, di mana perlu pemisahan managemen urusan negara dengan managemen urusan agama, sehingga tercipta check and balance antara negara dengan masyarakat.

Pendekatan Fiqih
Berdasarkan pendekatan fiqih, Wahid menilai hubungan Islam dan negara tidak bersifat teokratis. Pendekatan fiqih atau pendekatan agamis dan seringkali disebut pendekatan spiritual karena sangat kental dimensi spiritualnya. Wahid sangat menekankan pendekatan spiritual ini, bahkan dalam lembaga yang melibatkan non-Muslim seperti LibForAll. Dia berusaha menyingkap konteks itu melalui berbagai ilmu modern, baik filsafat maupun ilmu-ilmu sosial modern harus dikonsultasikan dengan ilmu agama. Hal ini tidak berarti ilmu agama lebih penting dari ilmu duniawi karena keduanya saling melengkapi. Wahid meyakini Muslim perlu merespon isu-isu modern berdasarkan Tradisi Islam. Oleh karena itu, dia tidak setuju dengan sekularisasi model Turki yang tidak memberi kesempatan pada komunitas agama (Islam) untuk mengekspresikan pemikirannya mengenai isu-isu modernitas. Wahid mengikuti cara yang ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW. Bukankah Nabi tidak larut dalam gapaian spiritualnya ketika mencapai puncak eksistensi dalam peristiwa Isra Mi’raj dan beliau kembali ke realitas masyarakat kongkrit mengajak untuk mewujudkan kebahagiaan. Spiritualitas itu menjadikan Nabi tidak dikenal lelah dalam melakukan misi Dakwah Rahmatan lil ‘Alamin. Inilah spirit untuk ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus, yaitu misi bagi perbaikan kehidupan (duniawi) manusia yang dijiwai nilai-nilai ketuhanan (berupa kebenaran). Misi Rahmatan lil ‘Alamin dapat diartikan sebagai “Islam dan Misi Peradaban”, di mana dakwah tidak hanya ditujukkan kepada masyarakat Muslim, tetapi bagi semua manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang primordialnya. Untuk keperluan itu, perlu penguasaan ilmu-ilmu duniawi sebagai pisau analisanya, yang tentunya jarus ditempatkan dalam kacamata kosmologi Islam.

Pendekatan Sosio Kultural
Pendekatan sosio-kultural yang dikembangkan Wahid merupakan hasil sintesa dari kosmologi Islam dengan pendekatan struktural yang diperkenalkan Karl Marx. Akan tetapi, perubahan struktural yang ditawarkan Wahid beda dengan yang dilakukan oleh Karl Marx karena dia tidak membenarkan adanya revolusi. Baginya perubahan harus dilakukan secara demokratis dengan menghindari terjadinya kekerasan. Pendekatan sosio-kultural merupakan suatu cara untuk mendamaikan pemikiran politik dari dua kubu ekstrim antara kaum idealis dengan kamu realis. Kaum idealis percaya bahwa kehidupan harus ditundukkan pada nilai-nilai normatif yang sudah baku, sedangkan kaum realis percaya bahwa power memiliki daya yang kuat untuk mengatur kehidupan. Pendekatan sosio-kultural ingin keluar dari ketegangan akut dalam tradisi filsafat politik, mulai dari Plato, Kant, Hegel, Marx, dan pemikir-pemikir modern lainnya. Pendekatan sosio-kultural yang berusaha mensintesakan antara “normatif” dengan yang “partikular”, di mana antara keduanya bisa dipisahkan namun tetap saling berkaitan satu sama lainnya. Pemikiran Wahid yang memungkinkan terjadinya dialektika “norm” dengan “particular” berakar dari pandangannya yang tidak membedakan antara urusan dunia dan akhirat. Pentingnya pendekatan struktural mengarahkan Wahid menaruh perhatian terhadap masalah negara, di mana kekuasaan yang dimiliki oleh institusi negara begitu besar karena dipandang sebagai puncak dari sistem kemasyarakatan. Pentingnya demokrasi dalam ruang publik merupakan inti pemikirannya, sehingga segala sesuatu yang menyangkut pemikirannya dan juga tindakan politiknya ditujukan bagi tegaknya demokrasi.

Penutup
Dalam merespon isu-isu modernitas, Wahid mendasarkan dirinya pada kosmologi Islam seperti yang tercantum dalam kitab kuning dan dilengkapi dengan tradisi pemikiran, sebagai pisau analisanya, baik itu tradisi liberal, Marxis, maupun tradisi Muslim modernis. Memang pemikiran Wahid sudah keluar dari tradisi NU yang cenderung konservatif, sehingga dia memaknai pendekatan fiqih sebagai pendekatan sosio-kultural. Selama ini pendekatan fiqih cenderung dimaknai pendekatan kultural, di mana nilai-nilai Islam didakwahkan secara kultural. Wahid menilai hal itu kurang efektif, mengingat tidak disangga oleh basis sosial-ekonomi masyarakat pendukungnya dan dikhawatirkan pendekatan kultural dapat mengarah pada kekerasan. Baginya ideologi-ideologi hanya digunakan sebagai pisau analisa demi terciptanya demokrasi, dengan implikasi harus dihindarinya kekerasan. Baginya perubahan struktural harus dilakukan secara evolusi, bukan revolusi, sehingga adanya kesediaan untuk terlibat dalam sistem yang ada.

Sumber:
Rochmat, Saefur. 2011. Abdurrahman Wahid, Islam, dan Negara: Pendekatan Sosio-Kultural. Jurnal Al-Qurba 2(1):31-48, 2011. Diakses dari http://staffnew.uny.ac.id/upload/132104866/penelitian/2011al-qurbaabdurrahmanwahid.pdf. Diunduh pada tanggal 14 April 2018 pukul 22.56 WIB.


Keberadaan Lingga dan Yoni di Kabupaten Kebumen



Keberadaan peninggalan kuno di Kabupaten Kebumen bisa dilacak ke masa Dinasti Sanjaya di era Mataram Hindu. Ini ditandai dengan Lingga dan Yoni di Situs Desa Sumberadi (dahulu Somolangu), di tapal batas timur kota Kebumen. Lingga berupa tonggak batu dengan dasar persegi, bagian tengah segi delapan, dan bagian atas bulat tabung (gilig) sebagai lambang Dewa Siwa. Sementara Yoni sendiri berupa kotak batu dengan lubang persegi di tengahnya sebagai lambang Dewi Uparmati (istri Siwa). Dalam versi lain, Lingga melambangkan phallus (alat kelamin pria), sementara Yoni melambangkan wiwara (alat kelamin wanita). Kedua artefak ini bisa ditemukan bersamaan, di mana Lingga ditempatkan di dalam lubang Yoni. Penempatan seperti ini melambangkan kesuburan dan biasa dilakukan oleh kalangan masyarakat Hindu purba yang telah menetap dan terorganisir di suatu lokasi.

Terkuaknya Peradaban Hindu Kuno Kebumen
Situs Sumberadi berada di kompleks Taman Kanak-Kanak Sumberadi, 200 meter di utara alur Sungai Kedungbener. Lingga dan Yoni tersebut berada di samping MI AL Fatah, Desa Sumberadi. Lokasi Lingga dan Yoni itu hanya beberapa meter dari kompleks Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu. Pesantren ini diyakini merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa. Di situs ini ada 8 Lingga (satu telah pecah) dengan tinggi sekitar 0,6 meter dan 2 Yoni berukuran cukup besar, panjang-lebar-tinggi berkisar 1 meter. Keduanya terbuat dari batu andesit yang umum dijumpai di Lembah Kedungbener sebagai blok-blok masif yang bersumberkan pada batuan plutonik (lakolit) di formasi Waturanda Pegunungan Karangsambung yang sebagian bisa dilihat di Kaligending. Besarnya dimensi Yoni menunjukkan artefak ini tergolong peninggalan masyarakat zaman dulu yang sudah menetap di tempat tersebut. Ragam hias dinding dan cerat (saluran air) Yoni yang menunjukkan langgam Jawa Tengah, sama dengan Yoni di kompleks percandian Gunung Wukir tempat ditemukannya Prasasti Canggal dari abad 8 Masehi di Magelang. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa tempat ini sudah dihuni manusia sejak abad 8 Masehi. Ini tidak aneh karena pesisir Jawa Tengah bagian selatan menempati posisi penting dalam Kerajaan Medang. Kabupaten Purworejo misalnya, sudah dihuni pada era Sanjaya. Bahkan Rakai Watukura Dyah Balitung Shri Mahasambu (raja terbesar Medang pasca Sanjaya dan Samaratungga) membangun kompleks percandian Prambanan, Sewu, dan Plaosan.
Kembali ke Situs Sumberadi, artefak di situs ini mungkin tidak berdiri sendiri, tetapi bagian dari sebuah bangunan candi/altar pemujaan Hindu. Identifikasi adanya candi (yang kini mungkin terpendam) nampak dari toponimi nama-nama daerah di utaranya, yakni Candiwulan dan Candimulyo. Di Kebumen, nama Candimulyo juga ditemukan di Kecamatan Adimulyo dan nama candi itu sendiri juga ada di Karanganyar. Ditemukannya gundukan tanah dengan tumpukan batuan kuno di Dukuh Tlimbeng Candimulyo semakin memperkuat dugaan keberadaan beberapa situs kuno yang belum terungkap selain Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi tersebut. Tentu saja hal ini perlu digali lebih lanjut oleh ahli sejarah dan tim arkeolog sehingga nantinya bisa menjadi aset sejarah Kebumen yang penting, terutama menjadi bagian periodisasi peradaban masa lalu di Kebumen. Selain itu, di Situs Sumberadi juga ada bongkahan-bongkahan batu bata berukuran besar (3 kali lebih besar dari batu bata modern). Batu bata macam itu merupakan bahan bangunan candi-candi langgam Jawa Timur (setelah abad 11 Masehi), berbeda dengan candi-candi langgam Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit.
Dengan melihat keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi maka dapat disimpulkan bahwa telah ada kepercayaan Hindu kuno pada zaman Kerajaan Mataram Kuno pra-Islam, yaitu Kerajaan Medang. Apalagi telah diketahui sebelumnya bahwa pusat dari pemerintahan Medang sempat berpindah-pindah ke beberapa tempat di Jawa Tengah, hingga pada akhirnya mendiami wilayah di Jawa Timur. Salah satu pemerintahan Kerajaan Medang pernah berada di wilayah yang disebut Mamrati dan Poh Pitu yang diperkirakan terletak di daerah Karesidenan Kedu. Kota Kebumen  merupakan bagian dari wilayah Karesidenan Kedu. Secara arkeologis, wilayah Karesidenan Kedu sangat sarat dengan peninggalan-peninggalan kuno baik dari Dinasti Sanjaya maupun Dinasti Syailendra. Di wilayah Purworejo sendiri terdapat Situs Candi Gondoarum, di mana di dalamnya terdapat Lingga dan Yoni dari masa Mataram Hindu. Candi ini terletak satu kompleks dengan Gua Seplawan yang terletak di Desa Dororejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Lingga-Yoni Sumberadi Perlu Perawatan
Minimnya data mengenai adanya sejarah Kerajaan Medang di Kebumen menimbulkan keasingan bagi sekelompok masyarakat dan kalangan tertentu yang terlanjur berkiblat pada buku-buku ulasan yang lazimnya beredar di kalangan akademisi. Hal itu terus terjadi meskipun kini telah banyak bukti bermunculan, baik berupa data penelitian lama maupun bukti artefak-artefak yang ditemukan di sepanjang Sungai Lukulo dan beberapa wilayah lain yang tersebar di Kebumen. Adanya Lingga dan Yoni di Situs Sumberadi Kebumen tetap saja belum membuka kesadaran kelompok masyarakat yang kemungkinan antipati atau masa bodoh dengan perkembangan ilmu sejarah dan peradaban di tanah kelahirannya. Tentunya fenomena ini sangat memprihatinkan, sementara di daerah lain sendiri sejarah dan peradaban terus digali dengan sungguh-sungguh karena terbukti sangat penting bagi pembentukan dan penguatan karakter masyarakatnya.
Keberadaan situs Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi perlu diselamatkan. Pemkab Kebumen diminta segera menetapkan kawasan cagar budaya serta melakukan kajian arkeologis atas dua peninggalan sejarah tersebut. Masyarakat setempat pun menanggapi keberadaan Lingga dan Yoni ini kurang terawat. Masyarakat menyarankan Pemkab Kebumen segera membentuk tim atau menunjuk OPD yang berwenang melakukan kajian bekerja sama dengan arkeolog. Sebab, selain Lingga dan Yoni, di Desa Candimulyo dan Candiwulan juga terdapat peninggalan benda menyerupai candi yang perlu diteliti lagi. Masyarakat setempat menambahkan, dengan memahami dan menyadari tentang apa dan bagaimana Kebumen pada zaman pra-kemerdekaan dan pra-Islam, selayaknya masyarakat Kebumen patut bersyukur dan berbangga bahwa warga ini berdiam di sebuah wilayah yang memiliki pengaruh dan peradaban masa lalu yang agung.

Sumber:
Ananda. 2013. Terkuaknya Peradaban Kuno Kebumen. Diakses dari https://kebumen2013.com/terkuaknya-peradaban-kuno-kebumen. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 11.45 WIB.
Enakbangetsport. 2009. Sekilas Sejarah Kebumen. Diakses dari https://enakbangetsport.wordpress.com/2009/03/31/situs-kbm/amp/. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 12.31 WIB.
Hindarto, Teguh. 2013. Nilai Keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi. Diakses dari http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.co.id/2013/03/nilai-keberadaan-lingga-dan-yoni-di.html?m=1. Diunduh pada tanggal 30 Mei 2017 pukul 21.43 WIB.
Visit Kebumen. 2017. Tanpa Judul. Diakses dari akun Instagram @visitkebumen: http://thepicta.com/media/1445787212049690961_1771549628. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 17.09 WIB.
Wardopo, Komper. 2017. Lingga-Yoni Sumberadi Perlu Perawatan. Diakses dari http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/lingga-yoni-sumberadi-perlu-perawatan/. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2017 pukul 14.13 WIB.

Kisah Lucu Letnan Komarudin Salah Melihat Tanggal pada Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949

Nama Letnan Komarudin tak bisa dipisahkan dari cerita mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949. Hal ini dikarenakan Letnan Komarudin bersa...